FACEBOOK KIRIM EMAIL DISINI DOWNLOAD

Daftar Layanan dan Budget
Jln Juanda Gg. Anggrek No. 83, Depok, Jawa Barat.
  • PIN BB. 74164719
  • Sms/Whats App 021. 97235339,
  • Phone/Sms 021. 45765289
REKAMAN 3 LAGU 500 RIBU
VIDEO KLIP 500 RIBU
DAFTAR HARGA LAYANAN AUDIO DAN MUSIK
DAFTAR LAYANAN DAN HARGA VIDEO
DAFTAR LAYANAN HARGA PHOTO DAN DESAIN

Resensi Film Sang Pencerah

Pada hari ini saya menonton dua film sekaligus : Darah Garuda dan Sang Pencerah dalam jarak tempo susul menyusul. Dua film yang jelas-jelas memiliki kadar sejarah bangsa.

Btw, kedua film tersebut sesungguhnya telah saya prediksikan hasil akhirnya seperti apa sejak menonton trailernya di TV maupun Youtube.  Prediksi ini berlandaskan pada karya-karya yang telah dibesut para kreatornya, jauh sebelum kedua film ini di rilis.
>
Yang akan saya tuliskan dibawah sesungguhnya tidak layak untuk disebut resensi. Jika saya menggunakan judul "RESENSI" pada artikel ini, sesungguhnya hanya untuk memancing anda agar mau membaca tulisan saya ini.  "Resensi" bagi saya terlalu formal dan akademik. Terlalu membebani saya.  Untuk itu saya lebih suka menyebutnya sebagai artikel  "AMATAN " saja.  Sebuah share hasil menonton yang tercatat dalam benak dan ingin saya curhatkan dalam web-blog ini.

Berikut ini adalah hasil amatan saya yang sengaja saya tuliskan singkat karena keterbatasan waktu :

Sang Pencerah bagi saya memang mencerahkan dari berbagai sisi artistik. Hanung Bramantyo lagi-lagi telah memberi kesegaran baru di industri film Indonesia setelah sekian lama film tanah air tidak menghadirkan ornamen-ornamen klasik nan kolosal.  Tembakan-tembakan kata yang dimunculkan dalam skenario (ditulis Hanung sendiri) sangat jelas tepat sasaran dan tidak bertele-tele.  Bentuk-bentuk pengadeganan yang di strukturkan dalam treatment, juga nampak jelas di desain dengan matang.

Namun hal yang mengagetkan saya adalah : ciri khas pengadeganan Hanung tetap kuat dan tidak hilang meski dibawah kendali deretan eksekutif dan produser yang nyata-nyata sering memproduksi film berkadar similikiti uik uik hoek hoek.  Sekali lagi saya angkat jempol karena Hanung selalu berhasil memadukan urusan pasar dengan urusan idealisme (satu hal penting yang jarang dimiliki sejumlah sutradara besar tanah air)

Sebagai "film riwayat" yang mengandung kronologis, saya sudah yakin Hanung punya kesaktian khusus dalam memainkan speed sehingga scene by scene tidak membosankan. Dalam mengolah pengadeganan, Hanung selalu bisa menjadikan film-filmnya seperti lembaran-lembaran komik hidup. Di awal adegan, saya memang masih melihat bentuk klise pengadeganan yang bergaya sinetronis ( misalkan saat Dahlan kecil berdialog dengan Kyai Fadlil diintip oleh Siti Walidah kecil di jendela ), tapi itu menjadi tidak begitu penting saat film ini di bombardir dengan komposisi adegan yang sangat kuat disana sini.

Selain adegan, perhatian saya juga tertuju pada costum yang nampak dipikirkan betul oleh komandan departemennya. Penggunaan Batik pada masa itu memang tidak asal pakai karena Kraton Yogya pada masanya tidak mengijinkan jenis-jenis batik tertentu dipakai oleh rakyat biasa. Saya memang tidak begitu paham seni batik, tapi penggunaan motif parang dan kawung yang sangat mendominasi dalam film tersebut sudah cukup bagi saya untuk menilai bahwa Hanung tepat memilih komandan departemen kostum.

Dalam hal make up meski tidak sempurna betul dan ada yang janggal bin agak memaksakan  (mungkin terkait dengan rundown shooting  atau crew make up yang terbatas) tapi komandan departemen sudah cukup bisa menghadirkan ciri khas pribumi masa itu yang rata-rata legam dan berjanggut/brewok.  Tapi ada pertanyaan dalam benak saya : benarkah pada masa itu semua laki-laki berambut pendek  ?  Masalah make up sepertinya selalu membayangi film-film Indonesia yang bergenre klasik. Hingga saat ini, sulit sekali menemukan dedengkot departemen make up yang brilian dan eksperimentatif. Mungkin banyak yang menganggap departemen ini bukan departemen yang bergengsi untuk ditapaki sebagai karir maupun ruang karya. Bagi saya, jabatan make up film (khususnya film klasik) sesungguhnya tidak cocok di berikan pada mereka yang berbasic salon. Saya lebih menghimbau agar kawan-kawan seni rupa mau untuk merebut posisi ini agar make up film Indonesia lebih realis, menjadi tampak pantas dalam frame kamera dan tentu terhindar dari gaya make up panggung teater.

Bicara tentang lanskap 1800-an yang dibangun, sepertinya saya sekaligus harus bicara tentang ilustrasi musik pada film ini. Kenapa ? karena lanskap-lanskap itu takkan pernah hidup tanpa roh kemegahan yang ditiup lewat musik garapan Tya Subiakto. Sejumlah lokasi dan transportasi jadul yang dihidupkan kembali lewat jembatan musik pada film ini jelas memukau saya. Saya serasa dipental-pentalkan menuju berbagai ruang dan waktu yang dihadirkan dalam frame lanskap

Sesungguhnya banyak sekali yang ingin saya tuliskan atas amatan saya terhadap film Sang Pencerah, termasuk hobby Hanung dalam hal melukis dengan cahaya seperti film-filmnya yang lain (brownies, get meried, dll). “Bayangan” sepertinya hal yang sangat rugi jika tidak digarap Hanung pada tiap filmnya. Tengok saja siluet gerombolan penyerbu Langgar Kidul  yang muncul dalam beberapa frame. Juga kegemarannya dalam memunculkan gaya pengadeganan lawas era-era 80-an yang selalu mengingatkan saya pada film-film angkatan Arifin C. Noer .

Film ini sepertinya memang sengaja tidak dibuat rumit oleh Hanung. Sejumlah tema-tema dialog yang sebenarnya cukup mendalam sengaja dibiarkan menggantung tanpa debat. Mari kita amati adegan-adegan berbau mistisisme yang di munculkan pada awal-awal film. “semua itu karena Syek Siti Jenar ! “. Titik ! yah, kalau tema ini diperdalam pasti bisa ngelayap kemana-mana alur filmnya.  Durasi keseluruhan film (112 Menit) tentu takkan cukup. Hanung membuat film ini tetap menjadi film riwayat, bukan film ceramah, apalagi film filosofi.

Bagi saya pribadi, film Sang Pencerah adalah film yang wajib dimasukkan dalam deretan film-film legendaris yang telah dibuat bangsa ini meskipun tergolong film baru. Melihat ledakan penonton disana-sini, bisa jadi ini akan menjadi film terlaris tahun ini.

Oh ya, satu catatan yang hampir terlewatkan : jika MultiVision Plus dan para produsernya benar-benar menjadi bagian dari  bangsa Indonesia, harusnya mereka sesering mungkin membuat film-film yang punya nilai martabat seperti film ini. Tidak melulu membuat film yang mengeksploitasi paha dan payudara sebagai barang jualan, tidak melulu menina bobokkan para pembantu dan ibu rumah tangga lewat sinetron-sinetron lebay di jam-jam prime time, atau tidak membuat film-film plagiat yang biasa dikerjakan oleh sutradara-sutradara yang memiliki nama aneh sok jepang-jepangan. Sebagai Production House yang masuk dalam kategori raksasa, harusnya dengan segala keperkasaannya, MultiVision Plus mampu membawa film Indonesia mendapatkan apresiasi yang lebih luas di dunia Internasional
  • DIONYS DHEWANINDRA

ARTIKEL TERKAIT:

VIDEO KLIP MANIPULASI COMPUTERISASI

Berbagai video klip yang dikerjakan oleh Padepokan Gerilya ( Pager) meski murah dan super terjangkau, tetap mengalami sentuhan computerizer untuk tetap dapat mengikuti perkembangan teknologi video atau film. Strategi penggunaan visual effect ini pada akhirnya mampu menjaring banyak musisi untuk mempercayakan penggarapan video klipnya kepada Pager.

Meski mungkin punya harga yang relatif sama dengan produksi studio yang lain, namun dari sisi teknis pengerjaan, jelas memiliki perbedaan jika dilihat dari hasilnya. Tidak sekedar cut to cut semata. Siapa saja sekarang ini bisa membuat video, namun Pager selalu berusaha selangkah lebih maju. Di dukung sejumlah crew yang berpengalaman bertahun-tahun, malang melintang di berbagai broadcast televisi dan production house, mengerjakan berbagai proyek film layar lebar, Film TV, iklan, program TV serta video klip, Pager. selalu memberikan dukungan yang terbaik untuk karya anda.


MULTICAMERA LIVE & PHOTOGRAPHY & SOUND SYSTEM

Padepokan Gerilya ( Pager ) menggunakan sejumlah perangkat multicamera dalam mengerjakan proyek-proyek dokumentasi seperti weeding atau pernikahan, event musik, seminar, pengajian, misa, kebaktian dan acara-acara lainnya. Hal ini dilakukan agar dokumentasi terekam dengan baik secara audio maupun visual sehingga layaknya acara-acara di televisi.

Ada kalanya klien juga mengambil paket dokumentasi photo dan sound system untuk digabung dengan paket multicamera live agar biaya semakin murah dan team mudah untuk dikoordinasikan saat di lapangan.

Mahalkah biayanya ? Tentu saja tidak. Anda bisa mengetahui paket-paket biayanya DISINI
REKAMAN AUDIO & MUSIK PADEPOKAN GERILYA STUDIO

Selain mengerjakan proyek-proyek video, Padepokan Gerilya juga memiliki divisi khusus yang menangani produksi audio, baik musik lagu maupun produk audio lainnya seperti dubbing, sound effect dan ilustrasi.

Seluruh perekaman di lakukan menggunakan perangkat digital. Khusus untuk aransement musik, Pager Studio melibatkan langsung beberapa musisi sekaligus untuk bermain secara live. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kesegaran tersendiri sehingga musik yang dibuat tidak terdengar seperti organ tunggal atau yang cuma dikerjakan oleh satu orang saja.

Sudah tidak terhitung lagi jumlah musisi, baik band maupun penyanyi solo ( duet / group vocal ) yang merekam karyanya di Pager Studio dari berbagai jenis musik.

MULTIMEDIA & CD INTERAKTIF

Sejumlah jenis-jenis kerja multimedia juga diselenggarakan oleh Padepokan Gerilya. Diantaranya adalah pembuatan Motion Graphic. Motion graphic adalah salah satu bentuk lain dari desain grafis image. Bedanya, grafis image bersifat diam ( still ) sementara Motion graphic bersifat bergerak. Motion graphic bisa berupa 2 dimensi ataupun 3 D.

Motion graphic biasanya digunakan sebagai salah satu sarana presentasi yang terdapat dalam sebuah CD atau file interaktif. Motion graphic juga dibutuhkan sebagai opening, bumper in/out, titling, closing program, dan kebutuhan lain .


TENTANG PADEPOKAN GERILYA

Padepokan Gerilya atau yang biasa disingkat Pager adalah sebuah komunitas multimedia dan audio visual yang di dirikan sejak tahun 2008 di kota Depok Jawa Barat. Di dalam komunitas ini berhimpun berbagai pekerja seni lintas bidang, diantaranya filmmaker, teaterawan, broadcaster, animator, graphic desainer, musisian dan penulisan.

Untuk memfasilitasi kerja-kerja kreatifnya, Pager kemudian memperlengkapi diri dengan sejumlah perangkat pendukung, diantaranya studio musik dan audio, studio editting dan graphic serta studio green screen. Di samping itu Pager sengaja mengambil lokasi workshop di dekat sebuah telaga di Jalan Juanda Depok untuk mendukung kegiatan shooting outdoornya. Dengan demikian, proyek-proyek kreatif yang dikerjakan oleh komunitas ini bisa berjalan dengan baik hingga kini.

PADEPOKAN GERILYA
Jln Juanda Gg. Anggrek No. 83 Depok Jawa Barat.
PIN BB. 74164719, Sms/Whats App 021. 97235339, Phone/Sms 021. 45765289
Salam Kreatif,
Halaman ini menampilkan tulisan-tulisan dari crew Padepokan Gerilya di saat lagi pada nganggur nggak ada proyek shooting, recording, desain atau lainnya. Namun untuk tetap "berkegiatan " , crew-crew yang selalu gatal berkarya ini menuangkan apa saja yang ada di kepala mereka pada rubrik-rubrik dibawah ini. Tiap artikel yang anda klik, akan muncul pada kolom " Artikel yang anda cari ada disini " ( berkedip - kedip )

INIKAH KERIS SAKTI DI NUSANTARA ?

Mungkin anda sudah pernah mendengar tentang keris Mpu Gandring, tapi bukan keris ini yang saya maksud. Keris yang dibuat seorang empu dari desa Lulumbang ( Sekarang Wlingi-Blitar) itu ternyata masih punya pesaing yang diyakini punya tuah sakti lebih dahsyat dan kharismatik. Lalu keris apa ?