Widget edited by super-bee

Resensi Film Sang Pencerah




Pada hari ini saya menonton dua film sekaligus : Darah Garuda dan Sang Pencerah dalam jarak tempo susul menyusul. Dua film yang jelas-jelas memiliki kadar sejarah bangsa.

Btw, kedua film tersebut sesungguhnya telah saya prediksikan hasil akhirnya seperti apa sejak menonton trailernya di TV maupun Youtube.  Prediksi ini berlandaskan pada karya-karya yang telah dibesut para kreatornya, jauh sebelum kedua film ini di rilis.
>
Yang akan saya tuliskan dibawah sesungguhnya tidak layak untuk disebut resensi. Jika saya menggunakan judul "RESENSI" pada artikel ini, sesungguhnya hanya untuk memancing anda agar mau membaca tulisan saya ini.  "Resensi" bagi saya terlalu formal dan akademik. Terlalu membebani saya.  Untuk itu saya lebih suka menyebutnya sebagai artikel  "AMATAN " saja.  Sebuah share hasil menonton yang tercatat dalam benak dan ingin saya curhatkan dalam web-blog ini.

Berikut ini adalah hasil amatan saya yang sengaja saya tuliskan singkat karena keterbatasan waktu :

Sang Pencerah bagi saya memang mencerahkan dari berbagai sisi artistik. Hanung Bramantyo lagi-lagi telah memberi kesegaran baru di industri film Indonesia setelah sekian lama film tanah air tidak menghadirkan ornamen-ornamen klasik nan kolosal.  Tembakan-tembakan kata yang dimunculkan dalam skenario (ditulis Hanung sendiri) sangat jelas tepat sasaran dan tidak bertele-tele.  Bentuk-bentuk pengadeganan yang di strukturkan dalam treatment, juga nampak jelas di desain dengan matang.

Namun hal yang mengagetkan saya adalah : ciri khas pengadeganan Hanung tetap kuat dan tidak hilang meski dibawah kendali deretan eksekutif dan produser yang nyata-nyata sering memproduksi film berkadar similikiti uik uik hoek hoek.  Sekali lagi saya angkat jempol karena Hanung selalu berhasil memadukan urusan pasar dengan urusan idealisme (satu hal penting yang jarang dimiliki sejumlah sutradara besar tanah air)

Sebagai "film riwayat" yang mengandung kronologis, saya sudah yakin Hanung punya kesaktian khusus dalam memainkan speed sehingga scene by scene tidak membosankan. Dalam mengolah pengadeganan, Hanung selalu bisa menjadikan film-filmnya seperti lembaran-lembaran komik hidup. Di awal adegan, saya memang masih melihat bentuk klise pengadeganan yang bergaya sinetronis ( misalkan saat Dahlan kecil berdialog dengan Kyai Fadlil diintip oleh Siti Walidah kecil di jendela ), tapi itu menjadi tidak begitu penting saat film ini di bombardir dengan komposisi adegan yang sangat kuat disana sini.

Selain adegan, perhatian saya juga tertuju pada costum yang nampak dipikirkan betul oleh komandan departemennya. Penggunaan Batik pada masa itu memang tidak asal pakai karena Kraton Yogya pada masanya tidak mengijinkan jenis-jenis batik tertentu dipakai oleh rakyat biasa. Saya memang tidak begitu paham seni batik, tapi penggunaan motif parang dan kawung yang sangat mendominasi dalam film tersebut sudah cukup bagi saya untuk menilai bahwa Hanung tepat memilih komandan departemen kostum.

Dalam hal make up meski tidak sempurna betul dan ada yang janggal bin agak memaksakan  (mungkin terkait dengan rundown shooting  atau crew make up yang terbatas) tapi komandan departemen sudah cukup bisa menghadirkan ciri khas pribumi masa itu yang rata-rata legam dan berjanggut/brewok.  Tapi ada pertanyaan dalam benak saya : benarkah pada masa itu semua laki-laki berambut pendek  ?  Masalah make up sepertinya selalu membayangi film-film Indonesia yang bergenre klasik. Hingga saat ini, sulit sekali menemukan dedengkot departemen make up yang brilian dan eksperimentatif. Mungkin banyak yang menganggap departemen ini bukan departemen yang bergengsi untuk ditapaki sebagai karir maupun ruang karya. Bagi saya, jabatan make up film (khususnya film klasik) sesungguhnya tidak cocok di berikan pada mereka yang berbasic salon. Saya lebih menghimbau agar kawan-kawan seni rupa mau untuk merebut posisi ini agar make up film Indonesia lebih realis, menjadi tampak pantas dalam frame kamera dan tentu terhindar dari gaya make up panggung teater.

Bicara tentang lanskap 1800-an yang dibangun, sepertinya saya sekaligus harus bicara tentang ilustrasi musik pada film ini. Kenapa ? karena lanskap-lanskap itu takkan pernah hidup tanpa roh kemegahan yang ditiup lewat musik garapan Tya Subiakto. Sejumlah lokasi dan transportasi jadul yang dihidupkan kembali lewat jembatan musik pada film ini jelas memukau saya. Saya serasa dipental-pentalkan menuju berbagai ruang dan waktu yang dihadirkan dalam frame lanskap

Sesungguhnya banyak sekali yang ingin saya tuliskan atas amatan saya terhadap film Sang Pencerah, termasuk hobby Hanung dalam hal melukis dengan cahaya seperti film-filmnya yang lain (brownies, get meried, dll). “Bayangan” sepertinya hal yang sangat rugi jika tidak digarap Hanung pada tiap filmnya. Tengok saja siluet gerombolan penyerbu Langgar Kidul  yang muncul dalam beberapa frame. Juga kegemarannya dalam memunculkan gaya pengadeganan lawas era-era 80-an yang selalu mengingatkan saya pada film-film angkatan Arifin C. Noer .

Film ini sepertinya memang sengaja tidak dibuat rumit oleh Hanung. Sejumlah tema-tema dialog yang sebenarnya cukup mendalam sengaja dibiarkan menggantung tanpa debat. Mari kita amati adegan-adegan berbau mistisisme yang di munculkan pada awal-awal film. “semua itu karena Syek Siti Jenar ! “. Titik ! yah, kalau tema ini diperdalam pasti bisa ngelayap kemana-mana alur filmnya.  Durasi keseluruhan film (112 Menit) tentu takkan cukup. Hanung membuat film ini tetap menjadi film riwayat, bukan film ceramah, apalagi film filosofi.

Bagi saya pribadi, film Sang Pencerah adalah film yang wajib dimasukkan dalam deretan film-film legendaris yang telah dibuat bangsa ini meskipun tergolong film baru. Melihat ledakan penonton disana-sini, bisa jadi ini akan menjadi film terlaris tahun ini.

Oh ya, satu catatan yang hampir terlewatkan : jika MultiVision Plus dan para produsernya benar-benar menjadi bagian dari  bangsa Indonesia, harusnya mereka sesering mungkin membuat film-film yang punya nilai martabat seperti film ini. Tidak melulu membuat film yang mengeksploitasi paha dan payudara sebagai barang jualan, tidak melulu menina bobokkan para pembantu dan ibu rumah tangga lewat sinetron-sinetron lebay di jam-jam prime time, atau tidak membuat film-film plagiat yang biasa dikerjakan oleh sutradara-sutradara yang memiliki nama aneh sok jepang-jepangan. Sebagai Production House yang masuk dalam kategori raksasa, harusnya dengan segala keperkasaannya, MultiVision Plus mampu membawa film Indonesia mendapatkan apresiasi yang lebih luas di dunia Internasional
  • DIONYS DHEWANINDRA
SILAHKAN ANDA SHARE DI JEJARING SOSIAL BERIKUT INI :

  • Untuk para blogger atau pemilik web tertentu, yang hendak mengcopy paste artikel original www.areapager.com di situsnya masing-masing, harap mengikuti etika berinternet dengan cara menyertakan sumber tulisan dan link secara lengkap, untuk menunjukkan bahwa anda punya martabat dan rasa saling menghargai


By. Dionys Dhewanindra

Di balik kisruh film Soekarno Hanung Bramantyo

Kekisruhan, polemik atau apalah namanya yang terjadi antara Rachmawati Soekarnoputri dengan Hanung Bramantyo terkait film " Soekarno" , tidak terlalu mempengaruhi saya untuk " tidak menonton" film nasional yang kabarnya membangkitkan jiwa nasionalisme ini.
By : Manunggal K Wardaya

Catatan Tutup Tahun : HAM di Tangan SBY

Dalam konteks penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak asasi manusia (HAM), peran yang sentral lagi vital disandang oleh negara.Dikatakan demikian, karena negaralah yang
By. Agust Marciano

Musisi - Musisi Pemberontak Nan Revolusioner

Kehadiran musik dalam guratan sejarah telah berhasil menancapkan fakta tersendiri. Jagad musik dalam beberapa dekade terakhir telah memunculkan barisan musisi yang tidak hanya sekedar lihai meramu instrumen, namun