Vatican : Negara Eropa Pertama Yang Mengakui Kedaulatan Indonesia

Pergulatan panjang Indonesia lewat berbagai jalur diplomatik maupun senjata demi memperoleh kedaulatan penuh di pusaran tahun 45 sampai 50-an memang tidak mudah. Bahkan hingga tahun 1949, Belanda masih melancarkan agresinya untuk menduduki Republik ini. 

Pada tanggal 13 - 16 Maret 1947, Konsul Jendral Mesir untuk India ( di Mumbay) yang bernama Muhammad Abdul Mun’im bersama Muriel Pearson (nama samarannya adalah Ketut Tantri - seorang perempuan Amerika yang pro kemerdekaan sejak masa revolusi) ,  datang ke Yogyakarta  ( Ibukota RI saat itu). Pada tanggal 15 Maret 1947 bertepatan dengan HUT Mesir ke 23, keduanya menghadap Presiden Soekarno untuk mewakili pemerintah Mesir sekaligus utusan Liga Arab guna menjelaskan posisi dukungan mereka terhadap kedaulatan RI.

Kondisi sosial politik di Indonesia rupanya tak luput dari pantauan Tahta Suci Vatican, terlebih setelah Mgr Albertus Soegijapranata dari Ordo Serikat Jesuit menjadi Uskup Vikaris Apostolik di Semarang sejak tahun 1940. Perhatian Vatican semakin besar ke Indonesia manakala di tahun 1942, Jepang merampas gereja-gereja katolik, pertapaan - pertapaan Ordo, rumah sakit sekaligus membantai para pastor , biarawan biarawati atau pekerja pribumi di aset-aset katolik lainnya. 

Sebagai pribumi sekaligus Uskup Katolik, Soegijapranata tentu saja terusik jiwa nasionalisme maupun kemanusiaannya. Terus menerus dirinya mendorong unsur-unsur katolik, terlebih pemuda dan pemudinya terlibat dalam berbagai pertempuran maupun diplomasi (dengan slogan terkenalnya 100% Katolik, 100% Indonesia). Secara intens dirinya juga melaporkan keadaan yang terjadi di Indonesia pada atasan hierarky-nya. Hal ini  otomatis menimbulkan satu kedekatan emosi antara Vatican dan Indonesia. Maka Proklamasi 17 Agustus 1945 dan kedatangan Konsul Jenderal Mesir Muhammad Abdul Mun’im untuk mendukung kedaulatan RI pada tanggal 15 Maret 1947 jelas menjadi satu masukan bagi Vatican dalam mengambil kebijakan.

Belum genap 1 bulan sejak ditanda tanganinya perjanjian persahabatan Mesir - Indonesia pada 10 Juni 1947 Indonesia, Tahta Suci Vatican mengambil keputusan untuk turut mendukung kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia atas dasar persamaan landasan dan falsafah kehidupan kenegaraan, yakni antara lain, anti atheisme, perdamaian dunia, kerukunan antar umat beragama dan kesejahteraaan serta keadilan sosial bagi seluruh umat manusia Pengakuan ini langsung dibuktikan dengan membuka kedutaan yang disebut “Apostolic Delegate” dan secara resmi pada tanggal 6 Juli 1947 menugaskan Georges-Marie-Joseph - Hubert-Ghislain de Jonghe d'Ardoye, M.E.P sebagai duta besar Vatican pertama di Jakarta untuk masa 1947 hingga 1955.

Kebijakan Vatican ini membuat negara-negara yang kala itu memiliki banyak penganut katolik , cukup tersentak, sehingga lewat PBB, mereka kemudian mendesak diadakannya pertemuan untuk menyelesaikan masalah Indonesia - Belanda. Desakan ini jelas senada dengan keinginan para pejuang diplomasi Indonesia yang ingin segera menyelesaikan konflik.

Namun Belanda sebagai negara dengan mayoritas pemeluk Protestan (tidak mengakui Paus maupun Tahta Suci, bahkan melakukan pemberangusan terhadap Katolik Indonesia selama VOC), menganggap pengakuan kedaulatan oleh Vatican tidak berarti apa-apa, baik secara politis maupun psikologis.

Hanya 15 hari setelah kedutaan Vatican di buka di Jakarta, Belanda menjawabnya dengan agresi militer yang pertama di Sumatera dan Jawa.

ARTIKEL TERKAIT: