ABG / Remaja PSK dan Tarifnya

Ditengah-tengah kondisi ekonomi yang semakin terhimpit, banyak sekali calon penerus bangsa yang harus rela putus sekolah. Tapi yang memperihatinkan adalah, ternyata jumlah pekerja seks remaja dibawah umur lebih banyak dibandingkan jumlah anak putus sekolah ! Yang lebih fantasis lagi, hasil survey menyatakan 70% pekerja seks di Indonesia terdiri dari remaja berusia 15 sampai 24 tahun. Dan tiap tahunnya angka tersebut meningkat hingga 30%.

Menurut Wikipedia.org,  Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK).

Dalam pengertian yang lebih luas, seseorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya sendiri, misalnya seorang musisi yang bertalenta tinggi namun lebih banyak memainkan lagu-lagu komersil. Di Indonesia pelacur sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur atau nyundal sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa kemasa. Resiko yang dipaparkan pelacuran antara lain adalah keresahan masyarakat dan penyebaran Penyakit_menular_seksual, seperti AIDS yang merupakan resiko umum seks bebas tanpa pengaman seperti kondom.

Jika menilik pengertian diatas, remaja PSK sendiri bisa diartikan sebagai : seseorang dengan perkiraan usia dibawah 21 tahun (atau dianggap belum dewasa) yang mendapatkan uang, barang, material atau sejumlah bentuk kemewahan lainnya dengan cara memberikan jasa pelayanan seksual, baik berupa hubungan seks, oral seks atau kepuasan seksual lainnya, kepada siapapun yang membutuhkannya.

Remaja PSK identik dengan siswi SMP atau SMA sederajat yang memiliki dua sisi kehidupan bertolak belakang. Sebagai pelajar yang berpendidikan, sekaligus sebagai pelayan seks yang dinilai rendaha oleh masyarakat.  Biasanya, mereka yang terlibat sangat pandai menyembunyikan profesi mereka. Pagi dan siang hari mereka beraktifitas dan berpenampilan layaknya anak seumuran mereka, saat sore datang, mereka bersolek dan berpenampilan seperti orang dewasa. Diketahui, dunia yang mereka jalani ini lantaran karena tuntutan pergaulan yang berawal dari dugem, hingga ajakan teman. Tentunya semua itu dapat mereka jalani didukung oleh faktor broken home, orang tua yang terlampau sibuk, kekerasan dalam rumah tangga, hingga lepas dari pengawasan kedua orang tua.

Gemerlap dunia malam hingga penghasilan besar yang menggiurkan, membuat mereka semakin tak ingin lepas dari segala kemewahan yang mereka dapat. Bagaimana tidak, untuk sekali kencan dipatok mulai dari 750 ribu hingga 1,5 juta rupiah, sedangkan untuk layanan panjang (sampai pagi) berkisar 1,5 hingga 4 juta rupiah. Tentunya bukan nominal yang sedikit untuk para pelajar.

Dalam aksinya mereka tidak jalan sendiri. Melalui jasa mucikari yang biasa disebut mami atau papi, bertugas mengatur janji dengan para pelanggan melalui telpon, menentukan waktu, hingga menjamin keamanan tempat. Untuk keamanan mereka tidak beroperasi di hotel, mall atau jalan, mereka lebih memlih caffe atau menyewa villa. Penyedia jasa mucikari biasanya membuka jaringan melalui jejaring sosial / facebook.

Dengan alasan lebih banyak duitnya, adapun pelanggan yang menjadi sasaran mereka diantaranya para pengusaha, bisnis man, dan eksekutif muda. Untuk pembayaran biasa melalui transfer ataupun tunai melalui PSK, hasil yang didapat harus dibagi dengan penyedia jasa mucikari.Sangat memprihatinkan karena pekerja seks remaja dibawah umur semakin berkembang pesat, bukan hanya di kota besar dan daerah wisata, tapi kota kecil hingga pedesaan pun turut menjadi bagian darinya.

Oleh karena itu peranan orang tua sangat penting, agar anak tidak ikut terjerumus. Bekal agama yang cukup, menjaga hubungan baik rumah tangga, mengenali anak, berkomunikasi, memberikan perhatian, mengenali pergaulan dan teman-temannya, serta lebih waspada, merupakan pondasi yang kuat supaya anak tidak ikut terseret kedalam jurang kehancuran.


Voluntext : Brigitta Int


ARTIKEL TERKAIT: