Ken Arok Ken Dedes, film sejarah yang hujan seks dan puting

Judul
Ken Arok - Ken dedes
Produser
Sanusi, MJ,
Djun Saptohadi
Durasi 
107 Menit
Skenario
Wijono Soewardjo,
Musik
Franki Raden
Sound
Sambas E
Photography
Kasdullah
Editor 
Djuki Paimin


Pemeran
Advent Bangun; Ali Albar; Bram Adrianto; Eva Arnast; George Rudy; Harun Syarief, Aminah Cendrakasih; Arthi Dewi; Baron Achmadi; Deddy Sutomo; Gatot Subroto; Herman Permana; Syamsuri Kaempuan; Torro Margens
****

Perkembangan film 5 tahun belakangan ini, sepertinya merupakan putaran roda dari era tahun 80-an, dimana film dalam negeri, mengalami kemajuan secara kuantitas namun merosot secara kualitas.  Sejumlah sutradara seperti wajib hukumnya memasukkan unsur sex dalam titik-titik scene tertentu guna mengobok-obok konsentrasi penonton.

Hari ini saya menonton film Ken Arok Ken Dedes, sebuah film ,  yang di produksi tahun 1983 oleh PT.Kalimantan Film Corp.  Sesungguhnya film yang diperankan oleh George Rudi  sebagai Ken Arok (kakak alumni saya di sebuah akademi drama dan film Yogya) itu sudah pernah saya tonton ketika masih kecil  , namun entah kenapa saya terusik untuk menonton ulang lagi.

Menit awal dibuka dengan salam dalam bahasa sansekerta dan syair yang bersifat wejangan. Sayangnya, kekhusukan tersebut langsung tak berarti apa-apa mana kala Ni Ken Endog ( ibu kandung Ken Arok ) menggeliat-geliat layaknya perempuan  yang disenggamai, saat menerima titipan benih Bathara Brahma.

Hanya beberapa menit berselang, adegan kembali berulang saat Ken Endog akan di setubuhi oleh suaminya.  Tak berhenti sampai disitu, rentetan scene seperti wajib menampilkan paha mulus nyaris ke selengkangan dengan bonus payudara big size yang hampir menyembul dari kain sejumlah pemain wanita.

Nafas tersengal penonton seperti belum reda manakala Ken Arok akhirnya kabur dari padepokan bersama Ken Umang ( istri pertamanya) dan tinggal di rumah pohon mirip tarzan. Dalam rumah itu, untuk menyimbolkan adegan seks, keduanya bersama-sama membelah buah duren sekaligus makan bersama. Sayangnya, bagi sang sutradara itu belum cukup. Putting payudara Ken Umang harus beberapa kali nampak di kamera lewat adegan yang dikesankan tak sengaja.

Penampakan putting kembali muncul manakala sejumlah anak buah Ken Dedes  (Eva Arnaz) mandi di kali. Tokoh yang ditampakkan putingnya tersebut hanya tampil untuk menunjuk ke sebuah arah.

Frame perkenalan Akuwu Tumapel Tunggul Ametung juga tak luput dari adegan kemunculan puting . Kemarahan tokoh yang diperankan oleh Advent Bangun itu adalah gara-gara laporan bahwa upetinya di rampok di hutan oleh Ken Arok. Ametung mengungkapkan kemarahannya dengan mendorong seorang figuran perempuan (yang berperan sebagai dayang )ke arah samping sehingga putingnya keluar dari kemben.

Terus terang saja saya sangat lelah menonton film ini. Sepanjang alur, mulai dari awal hingga selesai, hanya mengeksploitasi  paha, payudara dan geliatan birahi semata. Namun kekecewaan terbesar saya adalah  karena film yang dalam text openingnya tertulis “ diolah dari serat pararaton” ini sangat mencederai khasanah kesejarahan dan lepas dari kitab yang di tulis pada abad pertengahan tersebut.

ARTIKEL TERKAIT: