Widget edited by super-bee

Sejarah Tokoh Film Gladiator Maximus Decimus Meridius




Tulisan dibawah ini adalah tulisan asli saya di tahun 2010 dari blog pribadi yang telah di suspend. Namun ternyata telah banyak di copy paste secara tidak bertanggung jawab oleh berbagai situs tanpa menyebutkan sumber asli. Kali ini saya posting kembali untuk anda.

Saya yakin anda tidak bosan-bosannya menonton film Gladiator meski telah diputar berkali-kali di Trans TV ( stasiun TV yang paling kekurangan koleksi film sehingga stock lama di putar berkali-kali sampe nunggu kasetnya dimakan rayap atau rusak kena bencana alam ).

Tak terhitung lagi keberapa kalinya Trans TV menayangkan film Gladiator hingga pemutaran hari ini, minggu 13 Juni 2010. Namun hal ini membuat saya memutuskan untuk melacak siapa sebenarnya tokoh film tersebut.

Tokoh utama dalam film yang berlatar belakang sejarah Roma itu adalah Maximus Decimus Meridius, Jendral perang yang jadi budak.

Meski banyak orang menganggapnya cerita fiksi, namun ketokohan Maximus dalam cerita ini tidak serta merta “jegger ! “ ada. Inilah keunggulan creator bule yang mendetail sebelum menciptakan sesuatu ( fiksi sekalipun). Pembuatan Biografi tokoh tetap harus ada sebagai bahan jahitan untuk mengawinkannya dengan latar belakang cerita yang memang nyata sejarahnya.

Biografi ini biasanya di visualisasikan sekilas-sekilas saja. Namun jika mau bongkar-bongkar data sang penulis naskah, arsip dokumen itu akan menjadi landasan pak sutradara dalam memproyeksikan kisah. Dalam bahasa film/drama, hal ini disebut dengan “ Treatment Karakter.” Treatment tersebut biasanya akan muncul dalam sejumlah adegan.

Treatment Karakter Maximus Decimus Meridius di bawah ini telah saya temukan dan terjemahkan untuk di share kembali.

BIOGRAFI MAXIMUS DECIMUS MERIDIUS

Maximus Decimus Meridius adalah anak Gubernur Provinsi Baetica, Hispania yang lahir pada tahun 152. Nama belakangnya, yakni Meridius, adalah juga nama bapaknya sendiri, sementara ibunya bernama Lucretia, putri Senator Romawi : Bodaus

Maximus pada umur delapan tahun bersekolah di Hispalis dibawah bimbingan Fulvus, seorang Filsuf terkemuka. Pada usia 17 tahun Maximus bergabung sebagai tentara rendahan berpangkat Standar Bearer dan ikut bertempur melawan bangsa Celtic Britannia dan bangsa Partia di Kapadokia.

Pada tahun 171, saat berlibur ke villa milik Sergius Manus, tuan tanah Spanyol dari provinsi Gemina yang adalah juga teman ayahnya, Maximus jatuh cinta dengan sang putri, Cecilia. Mereka kemudian menikah dan di karuniai seorang putra bernama Decimus. Keluarga kecil ini tinggal di sebuah peternakan di perbukitan Fulginia yang jaraknya beberapa hari perjalanan dari Roma.

Sebagai tentara, Maximus jarang sekali bersama keluarganya, namun demikian dia sangat mencintai mereka dan sering berkirim surat..

Karena kecerdasan dan keberaniannya, karir Maximus terbilang cemerlang. Dalam waktu singkat dia naik pangkat menjadi opsir, perwira dan akhirnya jendral pertama dibawah kesatuan Lucius Veras. Dua pertempuran yang paling membuat naik tajam adalah saat memimpin pasukannya melawan Veture di Gaul dan di Germania Marcomanni. Dia pergi selama empat tahun sampai kemenangan final melawan bangsa Barbar di dekat Danube sungai.

Pada tahun 176, Kaisar pada saat itu, yakni Marcus Aurelius akhirnya menunjuknya sebagai pimpinan Legiun sekaligus tangan kanan jika sang Kaisar turun langsung memimpin pertempuran. Maximus menjadi Jenderal termuda dalam sejarah Romawi.

Marcus Aurelius wafat di kamp Vindobona karena sesak nafas. Bagi Maximus, kaisar telah dibunuh oleh Commodus, putranya sendiri. Untuk itu dia menolak mengucapkan sumpah kesetiaan pada Kaisar barunya. Dia di tangkap dan siap dihukum mati.

Maximus berhasil melarikan diri setelah sebelumnya terlibat perkelahian meski mengalami luka serius. Saat pulang ke rumah lagi-lagi Maximus mengalami tragedy besar. Seluruh keluarga dan para pengikutnya telah di bunuh atas perintah Kaisar Commodus. Karena kehabisan darah di tambah beban psikologis yang berat, maximus tak sadarkan diri.

Ketika sadar, Maximus ternyata telah di tangkap dan dikurung oleh kawanan pencuri. Tubuhnya kemudian di jual kepada penadah budak.

Maximus wafat di usia 40 setelah dicurangi oleh Commodus lewat perkelahian di Coloseum Roma pada tahun 192.

Begitulah,

Saking detilnya treatment karakter tokoh dalam film Gladiator ini banyak yang mengira bahwa ini tokoh nyata, padahal bukan.

Faktanya, Kaisar Commodus sama sekali bukan sister-complex seperti yang digambarkan dalam film. Dia bahkan mampu memerintah sebagai kaisar dari 180-192. Dia juga tidak membunuh ayahnya sendiri karena sejumlah kurun waktu sempat menemani sang ayah di medan perang. Marcus Aurelius juga dikenal piawai dalam hal keuangan/kekayaan sehingga membuat sejumlah terobosan terkait devaluasi. Gilanya lagi, ternyata Commoduslah yang tak terkalahkan di arena gladiator. 100 singa dalam satu hari pernah dia bunuh di arena. Juga 3 ekor gajah. Kaisar Commodus tewas di racun dan dicekik di kamar mandinya dalam sebuah konspirasi penggulingan kekuasaan. Tak ada secuilpun fakta ada seseorang bernama MAXIMUS DECIMUS MERIDIUS berhasil membunuhnya dalam sejarah Roma. Maka tak heran sejumlah web sejarawan luar negeri menyebut film Gladiator sebagai film pengacau sejarah.

Kehebatan kreator bule dalam mencampur adukkan fiksi dan kenyataan memang top. Seperti juga film-film fiksi yang berlatar belakang sejarah seperti Da vinci Code, Titanic, dan lain sebagainya.

Pesan saya. Jangan mudah terjebak !



______________________________

D. Dhewanindra
Kontributor areapager.com
Penyuka Sejarah dan Kebudayaan
Kini tinggal di Depok, Jawa Barat
______________________________

SILAHKAN ANDA SHARE DI JEJARING SOSIAL BERIKUT INI :

  • Untuk para blogger atau pemilik web tertentu, yang hendak mengcopy paste artikel original www.areapager.com di situsnya masing-masing, harap mengikuti etika berinternet dengan cara menyertakan sumber tulisan dan link secara lengkap, untuk menunjukkan bahwa anda punya martabat dan rasa saling menghargai


By. Dionys Dhewanindra

Di balik kisruh film Soekarno Hanung Bramantyo

Kekisruhan, polemik atau apalah namanya yang terjadi antara Rachmawati Soekarnoputri dengan Hanung Bramantyo terkait film " Soekarno" , tidak terlalu mempengaruhi saya untuk " tidak menonton" film nasional yang kabarnya membangkitkan jiwa nasionalisme ini.
By : Manunggal K Wardaya

Catatan Tutup Tahun : HAM di Tangan SBY

Dalam konteks penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak asasi manusia (HAM), peran yang sentral lagi vital disandang oleh negara.Dikatakan demikian, karena negaralah yang
By. Agust Marciano

Musisi - Musisi Pemberontak Nan Revolusioner

Kehadiran musik dalam guratan sejarah telah berhasil menancapkan fakta tersendiri. Jagad musik dalam beberapa dekade terakhir telah memunculkan barisan musisi yang tidak hanya sekedar lihai meramu instrumen, namun